Follow me on mw twitter....

Minggu, 18 April 2010

seminggu di RSU WS Makassar


11 April 2010 pukul 06.00 wita, dengan menumpangi kijang innova hitam bernomor polisi DD 190 WO, dan disupiri oleh bpk azis dj, sy bersama seorang teman bernama okta tiba di gerbang salah satu rumah sakit terbesar di Indonesia, RSU terbesar & terlengkap di kawasan indonesia timur.
setelah turun dari mobil, saya langsung bergabung dengan teman - teman yang lain (k'yossi, k'yuyun, k'vivin, k'firlia, k'isra, & k'syawal) dan langsung menuju ke lantai 2 tepatnya di ruangan UGD RSU WS (singkatan dari RSU Wahidin Sudirohusodo, red).
di lantai 2 kami smua langsung menghadap ma dokter residen bedah yang akan menjadi mentor kami selama belajar di UGD. setelah di absen, kami semua menuju ruang pasien untuk mulai blajar bagaimana merawat orang2 yang menderita kecelakaan. mulai dari pertolongan pertama hingga tahap penyelamatan nyawa orang (sok malaikatx deh :p)
pasien yang masuk bervariasi mulai dari luka ringan, luka bakar, fraktur tulang diseluruh tubuh, fraktur rahang dan masih banyak yang lain..
smoga apa yang sy dapat disni dapt dijadikan pegangan untuk melengkapi ilmu untuk di implementasikan di kehidupan nyata... amin....

Sabtu, 03 April 2010

wasit indonesia di Premier League....

pada tanggal 3 april 2010, Salah satu fenomena aneh yang terjadi di dataran Inggris, tepatnya di dalah satu stadion level 5 di dunia "old trafford" di kota manchester....
hari dimana sedang dilangsungkan duel big match premier league, salah satu partai yang bisa menentukan kemana trofi liga inggris berlabuh.... Mega duel antara the Red Devil versus The Blues Chelsea... laga akbar ini berlangsung normal sampai pada menit ke 79, saat drogba menceploskan bola ke gawang van der sar untuk kedua kalinya... awalnya para pendukung Man. United tidak memperdulikan bola yang masuk tersebut karena posisi drogba saat menerima bola berada dalam posisi offside... tapi fakta dilapangan berkatan sebaliknya, hakim garis tidak mengangkat bendera pertanda offside, tapi mengesahkan gol untuk membawa chelsea unggul sementara dengan skor 2-0...
kejadian diatas yang sy anggap, fenomena aneh... kenapa bisa di kompetisi terbaik di eropa, tetapi wasit masih bisa kecolongan, dan mengambil keputusan yang sangat buruk... ataukah liga inggris, kekurangan tenaga wasit sampai - sampai harus mengambil wasit Indonesia untuk memimpin laga seketat ini???
dunia yang aneh.... ckckck

Hubungan Tingkat Sosial Ekonomi dengan Derajat Kesehatan Gigi dan Mulut Masyarakat Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Selama 30 tahun terakhir, Indonesia mencapai berbagai keberhasilan dalam pembangunan ekonomi. Bahkan oleh Bank Dunia, Indonesia digolongkan sebagai salah satu bayi ajaib di Asia Tenggara yang mencapai keberhasilan dalam pembangunan ekonomi. Pendapatan rata-rata penduduk meningkat, jumlah orang miskin berkurang dan kesejahteraan penduduk semakin baik. Hal ini terjadi sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia di akhir tahun 1997. Dampak dari krisis telah menekan kesejahteraan rakyat, terutama mereka yang sebelum krisis telah hidup disekitar garis kemiskinan ke bawah. Salah satu indikator bagaimana terpuruknya tingkat kesejahteraan rakyat adalah terjadinya ancaman terhadap kelangsungan pangan dan gizi sebagian besar penduduk Indonesia
Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia sekarang ini baru menghadapi perubahan ekonomi dan politik yang tidak menentu. Walaupun tidak merata, secara umum Bank Dunia melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif sebelum tahun 1997. Pertumbuhan ekonomi ini berdampak pada penurunan angka kemiskinan dari 40% tahun 1976 menjadi 11% tahun 1996 , penurunan kematian bayi; penurunan kematian anak 0-4 tahun; dan 25% penurunan kematian ibu. Secara statistik hal ini ditunjang pula dengan pencapaian keamanan pangan, dan pencapaian pelayanan kesehatan terutama pada ibu dan anak.1
Krisis ekonomi memperlambat proses penurunan yang telah terjadi selama tiga dekade terakhir. Krisis ekonomi berakibat menurunnya nilai rupiah yang berakibat pada merosotnya pendapatan perkapita dan menyebabkan jumlah penduduk miskin semakin meningkat. Dampak krisis ekonomi terhadap kesehatan masyarakat dapat dilihat secara tidak langsung. Disadari secara luas bahwa dampak krisis ekonomi berdampak negatif pada status kesehatan masyarakat, akan tetapi bukti nyata secara statistik masih perlu dikaji agar tidak terjadi kontradiksi. Kenyataannya kajian perubahan morbiditas dan mortalitas pada penduduk masih dilakukan terus menerus. Diperlukan informasi data kesehatan dengan kualitas yang baik dari sistem pelayanan kesehatan dan juga survei lainnya.1
Status social ekonomi kemungkinan berhubungan dengan satu atau lebih factor – factor penghalang yang harus diperhatikan yang mempunyai pengaruh secara langsung pada kesehatan gigi. Factor penghalang pasien terhadap perawatan kesehatan gigi sudah lama dikenal termasuk factor ekonomi, geografi, pendidikan, budaya, social, dan factor psikologi.2
Menurut penelitian yang dilakukan oleh M. H. Hobdel dkk dari Inggris, telah lama dilakukan penelitian terhadap status sosial ekonomi yang rendah memliliki tingkat kesehatan yang lebih rendah dibandingkan dengan status sosial ekonomi yang tergolong tinggi. Beberapa studi telah mencari bukti nyata didalam kondisi kehidupan dengan menjadikan kemiskinan sebagai objeknya dan berbagai penjelasan yang tidak adekuat untuk menjelaskan perbedaan kesehatan diantara sosial ekonomi rendah dengan sosial ekonomi tinggi. Penyakit jantung, stroke dan penyakit gigi adalah beberapa contoh penyakit terbanyak yang terdapat di tingkatan sosial ekonomi rendah dan sedikit sekali dijumpai di tingkatan sosial ekonomi tinggi. Itu hanya beberapa hal yang dapat dilihat dari perbedaan sosial ekonomi rendah dengan sosial ekonomi tinggi.3
Barombong merupakan salah satu kelurahan yang terletak di bagian utara dari kota Makassar. Kelurahan Barombong ini termasuk di dalam Kecamatan Tamalate. Kelurahan Barombong terbagi atas 9 (sembilan) ORW yaitu Barombong, Bungaya, Pattukangan, Bontokapetta, Bontoa, Kaccia, Tomposappa, Sumanna, Timbuseng, dan Bayowa. Keadaan sosial ekonomi di wilayah Barombong cukup beragam seperti tingkat pendidikan dan mata pencahariannya. 4
Tingkat pendidikan masyarakat di kelurahan Barombong sebagian besar sudah dianggap baik. Tetapi masih ada juga yang tingkat pendidikan / pengetahuan yang masih rendah sehingga dapat memberikan dampak yang kurang menguntungkan terhadap program kesehatan. Namun demikian kita harus menyadari bahwa tingkat pendidikan masyarakat dari tahun ke tahun telah menunjukkan kemajuan / peningkatan dengan semakin meningkatkan masyarakat untuk meningkatkan masyarakat untuk memanfaatkan sarana pendidikan yang ada. 4
Mata pencaharian penduduk kelurahan Barombong adalah sebagian besar petani, peternak, nelayan, pegawai negeri, wiraswasta, buruh industri, pedagang, buruh bangunan dan supir angkutan umum. 4
Pada umumnya masyarakat masih menganggap penyakit gigi dan mulut bukanlah suatu penyakit yang serius. Kesehatan umum dianggap lebih penting dan dinilai lebih tinggi daripada kesehatan gigi dan mulut. Meskipun mempunyai keluhan pada gigi dan mulut, sebagian besar masyarakat menunda kunjungannya ke fasilitas pelayanan kesehatan gigi. Adapun faktor lain yang menyebabkan masih rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi adalah terdapatnya perbedaan konsep masyarakat tentang sakit gigi dengan konsep sakit gigi menurut tenaga kesehatan. 5
Masyarakat memiliki konsep sehat-sakit tersendiri yang tidak sejalan dengan konsep sehat sakit yang dimiliki tenaga kesehatan. Selama masih ada perbedaan konsep masyarakat tentang sehat-sakit dan selama belum ada perubahan konsep-konsep yang salah ini, maka peningkatan penggunaan fasilitas kesehatan akan berjalan lambat. 5
Dengan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi oleh masyarakat, diharapkan mendapat gambaran yang lebih jelas tentang pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi oleh masyarakat, perlu dilakukan suatu penelitian mengenai hal tersebut. Peneliti merasa tertarik untuk mengetahui sejauhmana pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut oleh masyarakat dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat kota Makassar. 5
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2004, dewasa ini penyakit karies gigi dan periodontal telah dialami oleh sekitar 90% masyarakat Indonesia. Hal ini terjadi karena kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sangat minim. Penyakit gigi dan mulut tersebut adalah penyakit jaringan periodontal dan karies gigi, yang mempunyai sifat progresif yang bila tidak dirawat atau tidak diobati akan makin parah, dan bersifat irreversible yaitu jaringan yang rusak dan tidak dapat kembalih atau pulih seperti semula. Penyakit tersebut memiliki hubungan yang erat dengan keadaan kebersihan mulut yang terabaikan sehingga terbentuk lapisan yang melekat erat pada permukaan gigi dan mengandung bakteri yang disebut plak. 5
Status kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu indicator yang dapat digunakan untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh empat factor penting antara lain keturunan, lingkungan fisik maupun social budaya, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Perilaku merupakan salah satu factor terpenting yang dapat mempenagruhi status kesehatan gigi dan mulut. 5
Berbicara mengenai kebersihan gigi dan mulut, maka pembentukan plak adalah merupakan salah satu pencetus terjadinya penyakit periodontal. Plak gigi merupakan lapisan bakteri yang lunak, tidak terkalsifikasi, menumpuk dan melekat pada gigi geligi dan objek lain dalam mulut, misalnya restorasi, protesa dan kalkulus. Dalam bentuk lapisan tipis, plak umumnya tidak terlihat dan hanya dapat terlihat dengan bantuan bahan disclosing. Dalam bentuk lapisan yang tebal plak terlihat sebagai deposit kekuningan atau keabu-abuan yang tidak dapat dilepas dengan kumur-kumur atau irigasi tetai dapat dihilangkan dengan penyikatan. Lokasi plak yang terbanyak pada daerah sepertiga gingiva dan interproximal. Karena plak berakumulasi dalam jumlah yang besar diregio interdental yang terlindungi, inflamasi ginggiva cenderung dimulai pada daerah papilla interdental dan menyebar ke sekitar gigi. 5
Dengan perawatan yang baik kita akan dapat mencegah penyakit gigi dan mulut yaitu antara lain dengan membersihkan gigi dan mulut dari sisa-sisa makanan yang biasanya tertinggal di antara gigi atau fissure gigi. Sisa-sisa makanan tersebut dikenal dengan sebutan food debris.
Food debris ini merupakan media yang baik untuk berkembangnya bakteri. Sehingga semakin lama melekat, bakteri itu semakin banyak dan bertumpuk, lapisan bakteri yang lunak pada gigi ini disebut dengan plak. Bila plak ini dibiarkan maka akan mengalami mineralisasi sehingga terbentuk kalkulus. Sedang kalkulus berperan sebagai factor etiologi penyakit periodontal.
Di dalam mulut juga sudah mempunyai system pembersihan sendiri yaitu air ludah dan lidah, tapi dengan banyaknya jenis variasi makanan yang diproduksi oleh berbagai macam pabrik makanan sekarang ini, pembersihan alamiah ini tidak lagi dapa berfungsi dengan baik. Oleh sebab itu, kita juga harus menggunakan sikat gigi sebagai alat bantu untuk membersihkan gigi dan mulut. Telah terbukti bahwa gigi yang bersih sangat sedikit sekali kemungkinannya terserang karies gigi.
Plak gigi merupakan deposit lunak yang terdiri dari kumpulan bakteri yang melekat ada permukaan gigi atau bagian-bagian rongga mulut lainnya, seperti jaringan ginggiva dan lidah. Distribusinya pada permukaan gigi umumnya pada daerah yang kurang menerima self cleansing, yaitu permukaan proximal dan beberapa servikal gigi. Plak gigi sangat berperan pada awal perkembangan penyakit periodontal dan karies gigi.
Tingkat pendidikan tiap individu di Negara kita ini sangatlah beragam. Ada yang sukses menyelesaikan pendidikan di jenjang perguruan tinggi, tetapi ada juga segelintir orang yang hanya mampu menyelesaikan pendidikannya di bangku sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Bahkan ada juga yang tidak sempat sama sekali untuk menerima pelajaran di bangku-bangku sekolah.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis berinisiatif untuk meneliti hubungan sosial ekonomi yang meliputi tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan pembayaran listrik tiap bulannya dengan status kesehatan gigi dan mulut.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan sosial ekonomi dengan status kesehatan gigi dan mulut masyarakat kelurahan Barombong Kleurahan Tamalate Makassar
1.3. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui hubungan antara tingkat sosial ekonomi dengan status kesehatan gigi dan mulut masyarakat di kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dalam rangka peningkatan kesehatan khususnya kesehatan gigi dan mulut serta dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya dalam hal efektifitas frekuensi menyikat gigi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tingkat Sosial Ekonomi
Tingkat kesadaran masyarakat di kota besar terhadap kesehatan gigi makin tinggi, tetapi sayang baru sedikit yang mau melakukan pencegahan gigi berlubang sejak dini. Terbukti, karies atau gigi berlubang merupakan penyakit infeksi yang umum di dunia dan ditemukan pada 95% penduduk dunia. Padahal, gigi yang sehat dan cantik menjadi idaman semua orang. 6
Dalam pengertian sosial atau pergaulan antar manusia (kelompok, komunitas), kemandirian juga bermakna sebagai organisasi diri (sef-organization) atau manajemen diri (self-management). Unsur-unsur tersebut saling berinteraksi dan melengkapi sehingga muncul suatu keseimbangan. Pada aras ini, pencarian pola yang tepat, agar interaksi antar unsur selalu mencapai keseimbangan, menjadi sangat penting. Setiap keseimbangan yang dicapai akan menjadi landasan bagi perkembangan berikutnya. Proses kemandirian adalah proses yang berjalan tanpa ujung. 6
Tingkat sosial ekonomi yang dalam hal ini lebih kita bahas mengenai tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan biaya yang dikeluarkan untuk membayar listrik setiap bulannya mempengaruhi kebersihan gigi tiap individu. Tingkat pendidikan tiap individu di Negara kita ini sangatlah beragam. Ada yang sukses menyelesaikan pendidikan di jenjang perguruan tinggi, tetapi ada juga segelintir orang yang hanya mampu menyelesaikan pendidikannya di bangku sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Bahkan ada juga yang tidak sempat sama sekali untuk menerima pelajaran di bangku-bangku sekolah. Begitu juga dengan jenis pekerjaan, di negara kita ini ada beraneka macam jenis pekerjaan yang diperuntukkan untuk setiap orang yang tersebar luar di seluruh pelosok negara ini.
Lebih ironis lagi, pembangunan di bidang ekonomi ini tidak menjamin terwujudnya perbaikan ekonomi masyarakat secara merata. Dua hal yang menjadi penyebabnya adalah: pertama, pembangunan ekonomi itu hanya mengutamakan pertumbuhan. Kedua, tidak efisiennya sistem birokrasi yang dikembangkan oleh pemerintah. Ketidakefisienan ini telah menimbulkan kesenjangan dalam kepemilikan akses atas pembangunan. Dengan kata lain, hanya individu-individu atau kelompok masyarakat tertentu yang memkmati hasil pembangunan tersebut. Golongan yang diuntungkan ini adalah mereka yang dekat dengan elit kekuasaan, atau mereka yang secara sosial ekonomi memang mampu meraih kesempatan yang ada. 6
Tentu saja golongan yang diuntungkan ini merupakan golongan kecil dari masyarakat. Sebagian besar masyarakat, karena berada dalam tingkat sosial ekonomi yang memprihatinkan, tidak mampu mengambil manfaat atas hasil-hasil pembangunan. Golongan terakhir ini hidup di perkampungan-perkampungan kumuh di perkotaan dan di pedesaan. Karena tekanan struktur kekuasaan, sosial, ekonomi, maupun politik begitu besar, mereka tertinggal jauh dari kemajuan ekonomi yang semakin menyulitkan kehidupan sehari-hari. 6
Lebih jauh dikemukakan perbedaan tingkat sosial ekonomi pada umumnya berpengaruh terhadap kebersihan gigi dan mulut, bau yang tak sedap yang keluar dari mulut sering dialami mereka yang memiliki tingkat pendidikan sangat rendah dengan tingkat kemampuan secara ekonomi tidak cukup baik. masyarakat yang tingkat pendidikannya tinggi dan kemampuan ekonominya cukup memadai, biasanya sangat memperhatikan masalah kesehatan terutama gigi dan mulut. 6
Telah lama dilakukan penelitian terhadap status sosial ekonomi yang rendah memliliki tingkat kesehatan yang lebih rendah dibandingkan dengan status sosial ekonomi yang tergolong tinggi. Beberapa studi telah mencari bukti nyata didalam kondisi kehidupan dengan menjadikan kemiskinan sebagai objeknya dan berbagai penjelasan yang tidak adekuat untuk menjelaskan perbedaan kesehatan diantara sosial ekonomi rendah dengan sosial ekonomi tinggi. Penyakit jantung, stroke dan penyakit gigi adalah beberapa contoh penyakit terbanyak yang terdapat di tingkatan sosial ekonomi rendah dan sedikit sekali dijumpai di tingkatan sosial ekonomi tinggi. Itu hanya beberapa hal yang dapat dilihat dari perbedaan sosial ekonomi rendah dengan sosial ekonomi tinggi.3
2.2. Status Kesehatan Gigi dan Mulut
2.2.1. Karies
Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yaitu email, dentin dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organiknya. Akibatnya terjadinya infasi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan periaeks yang dapat menyebabkan nyeri. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan bahkan kematian. Penyakit ini telah dikenal sejak masa lalu, berbagai bukti telah menunjukkan bahwa penyakit ini telah dikenal sejak zaman Perunggu, zaman Besi, dan masa pertengahan. Peningkatan prevalensi karies banyak dipengaruhi perubahan dari pola makan. Kini, karies gigi telah menjadi penyakit yang tersebar di seluruh dunia.7
Menurut Mahesh Kumar, Joseph T, Varma R dan Jayanti M dari India, Karies gigi menjadi penyakit yang prevalensinya paling tinggi yang menyerang gigi permanen, lebih besar daripada gigi susu dan lebih banyak pada murid sekolah berbadan hukumdaripada sekolah pribadi. Dengan demikian terlihat korelasi dengan status social ekonomi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kebutuhan terbesar dari pendidikan kesehatan gigi dan mulut pada usia dini meliputi instruksi yang tepat dari penatalaksanaan Oral Hygiene dan program preventif dari sekolah yang akan membantu meningkatkan perilaku preventif kesehatan gigi dan sikap yang berguna di dalam kehidupannya.8
Ada empat factor penting yang dapat menimbulkan karies, yakni :
1. Mikroflora : Bakteri asidogenik yang berkolonisasi pada permukaan gigi.
2. Host : Kuantitas dan kualitas saliva, kualitas gigi dll
3. Diet : Karbohidrat yang dapat difermentasi, khususnya sukrosa, tetapi bias juga makanan dari bahan tepung.
4. Waktu : Total waktu yang terpapar oleh asam inorganic yang diproduksi oleh bakteri plak.9
Ada beberapa cara untuk mengelompokkan karies gigi. Walaupun apa yang terlihat dapat berbeda faktor-faktor risiko dan perkembangan karies hampir serupa. Mula-mula, lokasi terjadinya karies dapat tampak seperti daerah berkapur namun berkembang menjad lubang coklat. Walaupun karies mungkin dapat saja dilihat dengan mata telanjang, terkadang diperlukan bantuan radiografi untuk mengamati daerah-daerah pada gigi dan menetapkan seberapa jauh penyakit itu merusak gigi.7
Karies disebabkan oleh beberapa tipe dari bakteri penghasil asam yang dapat merusak karena reaksi fermentasi karbohidrat termasuk sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Asam yang diproduksi tersebut mempengaruhi mineral gigi sehingga menjadi sensitif pada pH rendah. Sebuah gigi akan mengalami demineralisasi dan remineralisasi. Ketika pH turun menjadi di bawah 5,5, proses demineralisasi menjadi lebih cepat dari remineralisasi. Hal ini menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang luluh dan membuat lubang pada gigi.7,9
Bergantung pada seberapa besarnya tingkat kerusakan gigi. Sebuah perawatan dapat dilakukan. Perawatan dapat berupa penyembuhan gigi untuk mengembalikan bentuk, fungsi, dan estetika. Namun belum diketahui caranya Maka, organisasi kesehatan gigi terus menjalankan penyuluhan untuk mencegah kerusakan gigi, misalnya dengan menjaga kesehatan gigi dan makanan.7,9
Usaha paling tepat mencegah karies gigi adalah mengurangi makanan penyebab. Langkah ini harus diajarkan dan ditekankan terutama pada anak – anak. Selain mengurangi makanan penyebab, dianjurkan untuk menggosok gigi secara teratur serta memeriksakan kondisi gigi kepada dokter gigi secara teratur minimal 6 bulan sekali.7,9
2.2.2. Kalkulus
Kalkulus adalah massa yang mengalami kalsifikasi, yang melekat dan menumpuk pada permukaan gigi dan struktur – struktur keras lainnya didalam mulut. Biasanya kalkulus terdiri dari bakteri plak yang termineralisasi.9
Kalkulus jarang ditemukan pada gigi susu dan tidak sering ditemukan pada gigi permanen anak usia muda. Meskipun demikian, pada usia 9 tahun, kalkulus sudah dapat ditemukan pada sebagian besar rongga mulut dan pada hampir seluruh rongga mulut individu dewasa. Kalkulus dapat kita bedakan menjadi dua macam yaitu kalkulus supraginggiva dan kalkulus subginggiva.11,12
2.2.3. Food Debris
Food debris adalah sisa – sisa makanan yang dicairkan oleh enzim – enzim bakteri, dan dibersihkan dari rongga mulut setiap lima menit setelah makan, tetapi sebaian tetap tinggal dipermukaan gigi dan mukosa dan lebih mudah dibersihkan daripada plak. 10
Meskipun food debris juga mengandung bakteri, namun berbeda dengan bactery coatings (plak dan materi alba). Food debris seharusnya dibedakan dari serat – serat yang terjerat didaerah interproximal pada daerah timbunan makanan.10
Laju pembersihan rongga mulut yang dipengaruhi oleh aliran saliva (ludah), aksi mekanik lidah, pipi, dan bibir bervariasi tergantung jenis makanan dari masing – masing individu. Sebagai contoh, makanan lengket atau lunak seperti roti, buah ara, caramel akan melekat pada permukaan gigi paling lama satu jam, sebaliknya makanan – makanan kasar seperti wortel mentah, apel, dapat dibersihkan dengan cepat. Pengunyahan makanan berserat dapat secara efektif membersihkan sebagian food debris dari rongga mulut, walaupun itu tidak memiliki efek yang berarti pada pengurangan plak. 10
2.3. Hubungan Tingkat Sosial Ekonomi dengan Status Kesehatan Gigi dan Mulut
Telah lama dilakukan penelitian terhadap status sosial ekonomi yang rendah memliliki tingkat kesehatan yang lebih rendah dibandingkan dengan status sosial ekonomi yang tergolong tinggi. Beberapa studi telah mencari bukti nyata didalam kondisi kehidupan dengan menjadikan kemiskinan sebagai objeknya dan berbagai penjelasan yang tidak adekuat untuk menjelaskan perbedaan kesehatan diantara sosial ekonomi rendah dengan sosial ekonomi tinggi. Penyakit jantung, stroke dan penyakit gigi adalah beberapa contoh penyakit terbanyak yang terdapat di tingkatan sosial ekonomi rendah dan sedikit sekali dijumpai di tingkatan sosial ekonomi tinggi. Itu hanya beberapa hal yang dapat dilihat dari perbedaan sosial ekonomi rendah dengan sosial ekonomi tinggi.3
Faktor sosial ekonomi masyarakat merupakan sebab yang mengarah pada suatu keputusan ekonomi maupun non ekonomi, untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umum, kadang-kadang tindakan perorangan atau kelompok atas kegiatan produksi dan komsumsi yang secara tidak sadar dapat menimbulkan eksternalitas bagi orang lain. 6
Kemandirian (self-reliance) adalah suatu konsep yang sering dihubungkan dengan pembangunan. Dalam konsep ini program-program pembangunan dirancang secara sistematis agar individu maupun masyarakat menjadi subyek dari pembangunan. Walaupun kemandirian, sebagai filosofi pembangunan, juga dianut oleh negara-negara yang telah maju secara ekonomi, tetapi konsep ini lebih banyak dihubungkan dengan pembangunan yang dilaksanakan oleh negara-negara sedang berkembang. 6
Persepsi ini muncul dikarenakan penjajahan yang berlangsung lama, yang dengan efektif menggunakan kekuasaan feodal pribumi, telah meninggalkan warisan berupa tatanan ekonomi sosial serta mentalitas masyarakat yang tidak siap mengemban kemerdekaan yang telah diraih. Dalam kondisi semacam inilah negara-negara sedang berkembang bergaul dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju secara ekonomi. Tidak bisa lain, untuk mengejar ketertinggalannya di bidang ekonomi, negara-negara tersebut harus melakukan pelbagai program pembangunan. Sayangnya, pembangunan yang mereka laksanakan seringkali terfokus hanya pada bidang ekonomi, dengan sasaran utama meningkatkan produksi dan pendapatan, dan jarang memperhatikan faktor manusia sebagai subyek. Dalam praktik sering kita jumpai martabat manusia merosot hingga sekedar menjadi alat untuk mencapai tujuan ekonomi.6

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian Observasional Analitik14
3.2. Lokasi Penelitian
Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar
3.3. Waktu Penelitian
27 Desember 2008 – 9 Januari 2009
3.4. Populasi Penelitian
Masyarakat Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar yang berusia lebih dari 20 tahun. 13
3.5. Metode Sampling
Kelurahan Barombong dibagi menjadi 9 RW. Di setiap RW peneliti mengambil sampel sesuai dengan jumlah sampel yang dibutuhkan. Adapun sampel yang diambil yaitu sampel yang berada dilokasi pada saat peneliti melakukan penelitian. Setelah itu, dilakukan wawancara terlebih dahulu dengan sampel lalu diadakan pemeriksaan status gigi dan mulut.
3.6. Cara Penentuan Besar Sampel
Untuk cluster random sampling maka rumus penentuan besar sampel yang digunakan adalah 14 :
Jumlah Sampel=n/(1+n(d^2))
Jadi, n = 4020; d = 5 % = 0,05
Maka; Jumlah Sampel = n/(1+n〖(d)〗^2 )=4020/(1+4020(〖0.05)〗^2 )=362
Besar sampel yang diperlukan yaitu 362 orang.
3.7. Cara Pengumpulan Data / Jalannya Penelitian
Pengumpulan data dilakukan dengan cara cluster random sampling, yaitu peneliti langsung turun ke setiap RW di kelurahan Barombong. Disetiap RW dilakukan penelitian pada sejumlah sampel dengan usia 20 tahun keatas. Peneliti mengambil data dengan cara melakukan wawancara singkat dan dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan gigi dan mulut.
Cluster yang dimaksud disini yaitu peneliti melakukan penelitian dilakukan di sebuah kawasan yang telah ada, dan random dimaksudkan disini yaitu mengambil sampel secara acak yang berada ditempat pada saat peneliti melakukan penelitian
Pencatatan nama, umur dan jenis kelamin
3.8. Alat dan Bahan Yang Digunakan
Alat yang digunakan :
1. Kaca mulut (mirror)
2. Sonde
3. Nierbeken
4. Pinset
5. Alat tulis menulis
Bahan yang digunakan :
1. Alkohol 70 %
2. Betadin
3. Kapas
3.9. Data14
Jenis Data
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diambil secara langsung dari objek yang akan diteliti
Penyajian data
Penyajian data dalam bentuk tabel
Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 16.0
Analisis Data
Analisi data menggunakan analisis chi-square
3.10. Definisi Operasional15
Tingkat Sosial Ekonomi
Jenjang yang membedakan masyarakat yang bermukim di suatu daerah meliputi tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan kategori biaya listrik yang dibayar tiap bulannya.
Status Kesehatan Gigi
Penilaian yang diberikan terhadap kebersihan gigi antara lain karies, debris, kalkulus, dan penyakit periodontal.
3.11. Kriteria Penilaian
Karies gigi adalah karies yang dinilai dengan menggunakan indeks DMF-T dengan kriteria sebagai berikut :
Decayed (D) adalah gigi dengan karies yang masih dapat ditambal termasuk gigi dengan sekunder karies. Decay ini diperiksa dengan cara apabila sonde tersangkut pada permukaan gigi.
Missing (M) adalah kehilangan gigi atau gigi dengan indikasi pencabutan yang disebabkan oleh karies.
Filling (F) adalah tambalan yang dilakukan pada gigi yang mengalami karies tanpa disertai sekunder karies. Dalam hal ini gigi yang sudah ditambal, tetap dan baik atau gigi dengan restorasi mahkota akibat karies.
Tooth (T) adalah indeks dihitung per gigi meskipun terdapat lebih dari satu kavitas pada permukaan gigi.
DMF-T Rata - rata=(Jumlah D+M+F)/(Jumlah Orang Yang Diperiksa)
Kriteria penilaian indeks DMF-T menurut Suwelo, 1992:
0,0 – 1,1 = sangat rendah
1,2 – 2,6 = rendah
2,7 – 4,4 = sedang
4,5 – 6,5 = tinggi
> 6,6 = sangat tinggi
Pemeriksaan dilakukan dengan menghitung nilai skor DI-S untuk perhitungan tingkat debris dan CI-S untuk perhitingan tingkat kalkulus sehingga diperoleh OHI-S yaitu tingkat kebersihan gigi dan mulut.
Adapun gigi yang diperiksa meliputi 6 permukaan gigi permanen yaitu :
Permukaan labial gigi Incicivus sentralis kanan atas
Permukaan labial gigi Incicivus sentralis kiri bawah
Permukaan bukal gigi Molar satu atas kiri dan kanan
Permukaan lingual gigi Molar satu bawah kiri dan kanan
Untuk menentukan skor tiap gigi yang periksa, dihitung mulai dari 1/3 ginggival kearah 1/3 incisal atau oklusal.
Arti angka dalam DI-S :
0 = tidak ada debris atau stain
1 = debris lunak yang menutupi tidak lebih 1/3 permukaan gigi atau tidak ada debris tapi ada ekstrinsik stain.
2 = debris lunak yang menutupi lebih 1/3 permukaan gigi tapi tidak lebih 2/3 permukaan gigi.
3 = debris lunak yang menutupi lebih dari 2/3 permukaan gigi dari arah apikal.
Nilai debris indeks (DI-S) untuk individu :
(Jumlah Gigi Tiap Individu)/6 =
Angka dalam CI-S :
0 = tidak ada kalkulus
1 = kalkulus supraginggival yang menutupi tidak lebih 1/3 permukaan gigi.
2 = kalkulus supraginggival yang menutupi lebih 1/3 permukaan gigi tapi tidak lebih 2/3 permukaan gigi, dengan / tanpa subginggival yang masih berupa plak pada servikal gigi
3 = kalukulus supraginggival menutupi lebih dari 2/3 permukaan gigi, dari arah apical dengan atau tanpa kalkulus subginggival yang berlanjut di daerah servikal
Nilai debris indeks (CI-S) untuk individu :
(Jumlah Gigi Tiap Individu)/6 =
Jadi dari hasil skor diatas, maka untuk kriteria penilaian OHI-S diperoleh :
NILAI OHI – S = Nilai DI-S + Nilai CI-S
Kriteria nilai OHI-S menurut Wilkins, 1976:
0,0 – 1,2 : Oral Hygiene Baik
1,3 – 3,0 : Oral Hygiene Sedang
3,1 – 6,0 : Oral Hygiene Buruk

Bila gigi indeks tidak ada, maka ketentuan yang berlaku :
1. Jika gigi molar satu tidak ada, dipakai gigi molar dua
2. Jika gigi incicivus satu kanan atas tidak, dipakai gigi incicivus satu kiri atas
3. Jika gigi incicivus satu kiri bawah tidak ada, dipakai gigi incicivus satu kanan bawah. Jika keduanya tidak ada, tidak ada penelitian.
Harus diingat bahwa gigi – gigi yang diperiksa harus gigi yang telah erupsi sempurna, suatu gigi yang telah dianggap erupsi sempurna dan dapat dinilai apabila bagian incisal atau oklusal dari gigi tersebut telah mencapai dataran oklusal.
Kategori untuk banyaknya pembayaran listrik tiap bulannya menurut data yang diperoleh dari www.pln.co.id :
< Rp. 45.000 : Rendah
Rp. 45.000 – Rp. 90.000 : Sedang
> Rp. 90.000 : Tinggi
Penelitian telah dilakukan di kota Makassar, tepatnya di kecamatan Tamalate Kelurahan Barombong pada tanggal 27 Desember 2008 – 9 Januari 2009, diperoleh sampel dengan jumlah 362 orang dengan kisaran usia 20 tahun keatas.(13)
Tabel 1 menunjukkan distribusi sampel. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa yang melakukan kegiatan berkumur setelah makan yaitu sebesar 328 % dari total jumlah sampel. Yang memeriksakan giginya ke petugas kesehatan yang dalam hal ini adalag dokter gigi yaitu 149 % dari total jumlah sampel. Berdasarkan tingkat pendidikan, dapat kita lihat dari tabel 1, sebanyak 142 % dari total jumlah sampel hanya menempuh pendidikan sampai jenjang sekolah Dasar sedang yang tidak pernah sama sekali merasakan bangku pendidikan yaitu 9.9 % dari total jumlah sampel. Jenis pekerjaan menurut tabel adalah 23.2 % dari total jumlah sampel adalah pengangguran.
berdasarkan hasil penelitian, dapat kita lihat rata – rata decay, missing, filling dan DMFT pada sampel menurut tingkat pendidikannya. Untuk nilai D, yang tertinggi yaitu sampel yang hanya menempuh pendidikannya sampai tingkat SLTA. Untuk nilai M, nilai tertinggi yaitu sampel yang sama sekali tidak pernah menikmati pendidikan sedang nilai F yang tertinggi yaitu sampel yang telah melanjutkan pendidikannya sampai tingkat perguruan tinggi. Nilai rata – rata untuk DMF-T tertinggi yaitu sampel yang tidak pernah sama sekali menikmati pendidikan.
berdasarkan hasil penelitian, dapat kita lihat nilai rata – rata decay, missing, filling dan nilai rata – rata DMF-T. Untuk nilai D, yang tertinggi yaitu sampel yang mempunyai mata pencaharian dengan bertani yaitu mencapai 2.5. untuk nilai M, yang tertinggi yaitu sampel yang bekerja sebagai nelayan dengan rata – rata mencapai 9.25. untuk nilai F, yang tertinggi yaitu sampel yang masih menjalankan rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa dengan nilai rata – rata 0.28. Dan untuk nilai DMF-T, yang tertinggi yaitu sampel yang berprofesi sebagai petani dengan nilai 18.5.
berdasarkan hasil penelitian. Untuk nilai DIS, sampel yang hanya menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat SD adalah yang menunjukkan angka tertinggi yaitu 1.28. Begitu pula dengan nilai rata – rata CIS dan OHI-S, angka tertinggi ditunjukkan sampel yang hanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai bangku SD yaitu masing – masing menujukkan nilai 1.35 dan 2.76.
berdasarkan hasil penelitian. Untuk nilai DIS, nilai tertinggi yaitu sampel yang mempunyai pekerjaan sebagai nelayan dengan nilai 1.33. untuk nilai CIS, nilai tertinggi yaitu sampel yang mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan yaitu dengan nilai 1.38. dan untuk nilai rata – rata OHI-S tertinggi yaitu sampel yang juga memiliki mata pencaharian sabagai seorang nelayan.
berdasarkan hasil penelitian. Status DMFT untuk yang tidak pernah bersekolah yaitu 2.5 % dikategorikan sangat rendah, sedang 4.4 % dikategorikan sangat tinggi. Status DMFT untuk yang menyelesaikan pendidikannya hanya sampai SD yaitu 15.2 % dikategorikan sangat rendah, sedang 7.7 % dikategorikan sangat tinggi. Status DMFT untuk yang menempuh pendidikan sampai SLTP yaitu 7.7 % dikategorikan sangat rendah sedang 3 % dikategorikan sangat tinggi. Status DMFT untuk yang menempuh pendidikan sampai SLTA yaitu sebesar 7.5 % dikategorikan sangat rendah sedang 3.3 % dikategorikan sangat tinggi. Status DMFT untuk yang telah menempuh pendidikan sampai dengan tingkat perguruan tinggi yaitu 5 % dikategorikan sangat rendah sedang 0.8 % dikaegorikan sangat tinggi.
berdasarkan hasil penelitian, dapat kita lihat status DMFT yang dilihat dari jenis pekerjaan. Status DMFT yang bekerja sebagai PNS, 1.5 % dikategorikan sangat rendah sedang 0.3 % dikategorikan sangat tinggi. Status DMFT yang bekerja sebagai wiraswasta yaitu 11.3 % dikategorikan sangat rendah sedang 8.5 % dikategorikan sangat tinggi. Status DMFT yang bekerja sebagai petani yaitu sebesar 0.3 % dikategorikan sangat rendah sedang 0.8 % dikategorikan sangat tinggi. Status DMFT yang bekerja sebagai nelayan yaitu sebesar 2.2 % dikategorikan sangat rendah sedang 2.7 % dikategorikan sangat tinggi. Status DMFT yang tidak mempunyai pekerjaan sebesar 18.5 % dikategorikan sangat rendah sedang 7.1 % dikategorikan sangat tinggi.
berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil uji statistik di peroleh hasil yang signifikan p < 0,05) untuk nilai hubungan jenis pekerjaan dengan status DMFT. Hal ini berarti terdapat hubungan yang bermakna pada status kesehatan gigi dan mulut masyarakat Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar.
berdasarkan hasil penelitian, dapat kita lihat status DMFT yang dilihat dari biaya listrik yang dikeluarkan tiap bulannya. Sampel yang membayar biaya listriknya tergolong dalam kategori rendah, status DMFT terendahnya yaitu 27.1 % sedangkan tertinggi yaitu 13.3 %. Sampel yang tergolong dalam kategori sedang dalam pembayaran biaya listrik tiap bulannya, memiliki status DMFT terendah yaitu 1.6 % sedang yang tertinggi 1.6 %. Sedang sampel yang masuk dalam kategori tinggi pembayaran listriknya dalam sebulan, memliki status DMFT terendah yaitu 9.1 % dan yang tertinggi 2.5 %.
berdasarkan hasil penelitian juga diperoleh hasil uji statistik di peroleh hasil yang tidak signifikan(p < 0,05) untuk nilai hubungan kategori biaya listrik dengan status DMFT. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna pada status kesehatan gigi dan mulut masyarakat Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat kita lihat status OHIS yang dilihat dari tingkat pendidikan. Untuk status OHIS yang dikategorikan buruk persentase tertinggi terdapat pada yang hanya mengecap pendidikan sampai bangku sekolah dasar dengan persenstase 15.7 % dari 40 sampel, begitu pula status OHIS yang digolongkan baik persentase terendah juga terdapat pada yang hanya mampu menikmati bangku pendidikan sampai dengan tingkat sekolah dasar dengan persentase 15.7 % dari 57 sampel.
berdasarkan hasil penelitian, dapat kita lihat status OHIS yang dilihat dari jenis pekerjaan. Untuk status OHIS yang dikategorikan buruk persentase tertinggi terdapat pada yang tidak memiliki pekerjaan atau pengangguran dengan persenstase 12.9 % dari 182 sampel, begitu pula status OHIS yang digolongkan baik persentase tertinggi juga terdapat pada yang tidak memiliki pekerjaan dengan persentase 21.5 % dari 182 sampel.
berdasarkan hasil penelitian, dapat kita lihat status OHIS yang dilihat dari biaya listrik tiap bulan. Untuk status OHIS yang dikategorikan buruk, persentase tertinggi terdapat pada yang membayar biaya listrik tiap bulannya tergolong rendah yaitu dengan persentase 17.7 %. Sedang status OHI-S yang dikategorikan baik, persentase tertinggi terdapat pada sampel yang membayar listrik tiap bulannya tergolong tinggi yaitu dengan persentase 8 %.
Dari tabel ini juga diperoleh hasil uji statistik di peroleh hasil yang tidak signifikan p < 0,05) untuk nilai hubungan kategori biaya listrik dengan status OHI-S. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna pada status kesehatan gigi dan mulut masyarakat Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar

BAB V
PEMBAHASAN

Penelitian telah dilakukan di kota Makassar, tepatnya di kecamatan Tamalate Kelurahan Barombong pada tanggal 27 Desember 2008 – 9 Januari 2009, yaitu Hubungan Tingkat Sosial Ekonomi dengan Status Kesehatan Gigi dan Mulut di Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hubungan tingkat sosial ekonomi masyarakat yang dalam hal ini mengambil contoh tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan biaya yang dikeluarkan untuk membayar listrik tiap bulannya dengan status kesehatan gigi dan mulut di Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar. Penelitian ini menggunakan metode cluster random sampling. Sampel yang diperoleh sebanyak 362 orang dengan kisaran usia 20 tahun keatas.
Penelitian ini meliputi penilaian terhadap kebersihan gigi dan mulut serta status karies pada masyarakat Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar yang berusia lebih dari 20 tahun. Dari penelitian yang dilakukan, diketahui terdapat hubungan antara tingkat sosial ekonomi dengan status kesehatan gigi dan mulut. Hal ini sesuai dengan hipotesa yang telah dibahas pada bagian sebelumnya pada skripsi ini.
Tingkat sosial ekonomi masyarakat Barombong kurang lebih berpengaruh terhadap status kesehatan gigi dan mulut masyarakat itu sendiri. Adapun tingkat sosial ekonomi itu seperti tingkat pendidikan, jenis pekerjaan serta biaya yang dikeluarkan untuk membayar litrik tiap bulannya. Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat maka status kesehatan gigi dan mulut lebih terjaga dibandingkan dengan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tergolong rendah. Tetapi ada juga segelintir masyarakat yang walaupun tingkat pendidikannya tergolong rendah tetapi status kesehatan giginya bisa dikategorikan baik. Hal ini dikarenakan kebiasaan yang dilakukan sejak masih berusia muda. Jenis pekerjaan juga berpengaruh terhadap status kesehatan gigi dan mulut. Semakin tinggi pekerjaannya maka status kesehatan gigi dan mulutnya dapat dikategorikan baik. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang lebih tentang bagaimana kiat – kiat menjaga kesehatan gigi dan mulut jika dibandingkan dengan masyarakat dengan jenis pekerjaan yang tergolong rendah.
Secara umum, keadaan status karies masyarakat kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar tergolong tinggi. Hal ini sesuai dengan survei Departemen Kesehatan RI pada tahun 2001 yang menemukan bahwa sekitar 70 % penduduk Indonesia berusia 10 tahun keatas pernah mengalami kerusakan gigi. Pada usia 12 tahun, jumlah kerusakan gigi mencapai 43.9 %, usia 15 tahun mencapai 37.4 %, usia 18 tahun sebanyak 51.1 %, usia 35 – 44 tahun mencapai 80.1 % dan usia 65 tahun ke atas mencapai 96.7 %.
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan status kesehatan gigi dan mulut. Hal ini dapat kita lihat dari nilai p = 0.041 (p<0.05 berarti terdapat hubungan yang significant). Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wan Salina, Nizam dan Naing dari daerah Tumpat Malaysia. Faktor sosiodemografi telah mendapat perhatian dalam beberapa literature dalam hubungannya dengan karies. Penelitian ini menunjukkan bahwa factor sosiodemografi yaitu tingkat pendidikan berhubungan dengan status kesehatan gigi dan mulut dengan nilai p = 0.025.15
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Arab Saudi dengan judul Hubungan Aspek Sosial Ekonomi Dengan Status Kesehatan Gigi dan Mulut yang menunujukkan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan status kesehatan gigi dan mulut msyarakat. Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa criteria aspek social ekonomi yang memegang peranan penting dalam terjadinya karies salah satunya adalah tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap kesadaran untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut. Hasil ini juga sesuai dengan pernyataan Lingstrom et al. (2000) yang mengemukakan beberapa factor penyebab karies gigi diantaranya adalah factor social ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah.16
Hasil penelitian ini juga menunjukkan terdapat hubungan antara status kesehatan gigi dan mulut dengan jenis pekerjaan masyarakat kelurahan Barombong, hal ini dapat dilihat dari nilai p = 0.00 (p<0.05 berarti terdapat hubungan yang significant). Tetapi dalam penelitian ini tidak diperoleh hubungan antara status kesehatan gigi dan mulut dengan besarnya biaya listrik yang dikeluarkan masyarakat kelurahan Barombong tiap bulannya, hal ini dapat kita lihat dari nilai p = 0.115 (p<0.05 berarti terdapat hubungan yang significant).
Ada pendapat yang mengatakan bahwa distribusi keuangan kesehatan masyarakat yang wajar merupakan suatu langkah pertama yang diperlukan untuk mengurangi faktor – factor penghalang ekonomi. Para peneliti memperkirakan hanya terdapat 0.5 % dari anggaran belanja bidang kesehatan membiayai perawatan kesehatan gigi. Meningkatnya pengganti perawatan gigi mendorong partisipasi dokter gigi swasta dalam program yang dibiayai oleh pemerintah dapat menolong mengurangi factor penghalang ekonomi dan meningkatkan pelayanan kesehatan gigi. Akan tetapi, ditemukan bahwa meningkatnya penggantian biaya itu sendiri tidak menyebabkan peningkatan yang proporsional.2

BAB VI
PENUTUP

7.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan :
Terdapat hubungan antara tingkat sosial ekonomi dengan status kesehatan gigi dan mulut masyarakat Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar.
Tingkat pendidikan serta jenis pekerjaan mempunyai hubungan yang bermakna terhadap status kesehatan gigi dan mulut masyarakat Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar.

7.1. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar, maka ada beberapa saran yang dapat kami berikan :
Hendaknya dilakukan penelitian lanjutan dengan menambahkan variabel – variabel yang berhubungan dengan status kesehatan gigi dan mulut di Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar.
Perlu perhatian khusus dari pemerintah Kelurahan Barombong berupa tindakan preventif, kuratif, promotif dan rehabilitatif untuk meningkatkan taraf kesehatan gigi dan mulut masyarakat Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Makassar.

DAFTAR PUSTAKA
Bagus, I. Proposal Penelitian Faktor Sosial Ekonomi dan Demografi Terhadap Status Kesehatan dan Gizi Masyarakat (Online), www.indoskripsi.com launched at November 2007. Diakses 22 September 2008.
Oral diseases and socio-economic status (SES).British Detnal Journal.Vol 194. No 2.2003
A. James, E. David, Brumley, U. Jennifer. Community Sosioeconomic Status and Children’s Dental Health. Journal of Am. Dent. Assoc. 2001
Badan Pusat Statistik Barombong. Barombong dalam angka 2007. Available from : http://www.Barombong.go.id/baru/data/geo2007.pdf . Accessed at September, 25th 2008.
Muhariani, Indah. Januari 2008. Pencegahan dan Kesehatan Gigi Masyarakat. Laporan Akhir Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kedokteran Gigi. 22th Sept 2008.
Ismawan B. Mei 2003. Kemandirian Suatu Refleksi.Jurnal Ekonomi Rakyat.(Online),Th.II – No.3 Available from : http://www.ekonomirakyat.org. Accested at 22th September 2008.
Allen D. L. Periodontitics for The Dental Hygienest. 4thed and Febinger. Philadelphia. 1987
K. Mahesh, T. Joseph, R. Varma, M. Jayanthi. Oral Health Status of 5 years and 12 years school going children in Chennai City – An Epidemiological Study. Indian Jurnal Pedo Prev Dent – March 2005. Available from : http://jisppd.com. Accested at 18th may 2009
Axelsson P, Karlstad, Sweden. Diagnosis and Risk Prediction of Dental Caries. Vol.2. Chicago:Quintessence Publishing Co, Inc, 2000:1,43,77-8
A. M. Kidd E. Dasar – dasar karies penyakit dan penanggulangannya. Penerbit Buku Kedokteran EGC
Treham Mc. Menjaga Kesehatan Mulut dan Gigi. Liberty. Yogyakarta. 1995
Baum, Philips, Lund. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi. Edisi 3.Penerbit Buku Kedokteran EGC.1994
Tarigan, Rasinta. Karies Gigi. Hipokrates. 2002.
Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar – dasar- Metodologi Penelitian Klinis.3rd. CV Sagung Seto.2008
Ali, Muhammad. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Jakarta : Pustaka Amani
Wan Salina, A. Nizam, L. Naing. The associations of birth order and sociodemographic factors with caries experience among adolescents in Tumpat. Archieves of Orofacial Sciences. 2007. 45 – 50
A. Safia, Al-Attas, BSD. MSc. FAAOM. Socioeconomis Aspec With Karies Status.Saudi Dental Jurnal. Vol.19 No.1 Jan – April 2007.

Jumat, 02 April 2010

DISTALISASI MOLAR UNILATERAL DENGAN PLAT MODIFIKASI

DISTALISASI MOLAR UNILATERAL DENGAN PLAT MODIFIKASI
(Unilateral molar distalization with a modified slider)
Korkmaz Sayinsu , Fulya Isik, Ferdi Allaf and Tülin Arun

Abstrak
Meskipun telah banyak publikasi mengenai kegagalan alat distalisasi molar bilateral, namun informasi mengenai adanya permasalahan seperti maloklusi klas II unilateral yang asimetris masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memeriksa distalisasi molar unilateral pada pasien dengan hubungan molar klas II unilateral menggunakan plat Keles, yang didesain tanpa bite plane. Sepuluh anak perempuan (rata-rata usia 13.94 ± 2.13 tahun) dan tujuh anak laki-laki (rata-rata usia 13.12 ± 1.51 tahun) menjadi subyek penelitian. Seelah insersi alat, pasien-pasien tersebut diperiksa tiap bulan dan sekrupnya di reaktivasi setiap 2 bulan. Setelah hubungan molar mencapai super-klas I, alat tersebut dilepas dan gigi-gigi molar distabilisasi dengan Nance appliance selama 2 bulan sebelum fase kedua perawatan orthodontik. Nance appliance dipertahankan pada palatum sampai masa distalisasi kaninus berakhir. Gambaran radiografik cephalometrik lateral didapatkan sebelum dan segera setelah insersi distaliser molar.
Hasilnya menunjukkan bahwa molar pertama maksila dapat di distalisasi bodily rata-rata 2.85 mm. Premolar pertama maksila bergerak bodily maju 2 mm dan ekstrusi 2.03 mm. Keseluruhan, 1.32 mm protrusi, 1.12 mm ekstrusi, dan 1.79 derajat proklinasi gigi-gigi incisivus atas yang dapat terlihat. Incisivus mandibula dan molar mandibula erupsi 0.83 dan 0.95 mm, berturut-turut. Plat Keles unilateral berhasil mendistalisasi molars sampai pada hubungan molar klas I.

Pendahuluan
Sejak tren terbaru dalam orthodontik yang telah bergeser menjadi sebuah terapi non-pencabutan, mekanisasi distalisasi molar dan alat-alat mutakhir lainnya meningkat popularitasnya. Penggunaan headgear untuk distalisasi molar dilakukan menyusul kegagalan alat intraoral yang mudah digunakan (Gianelly et al. , 1989 , 1991 ; Hilgers, 1992 ; Reiner, 1992 ; Bondemark et al. , 1994 ; Erverdi et al. , 1997 ; Bussick and McNamara,2000 ; Brickman et al. , 2000 ; Keles and Sayinsu, 2000 ;Keles, 2001 ; Bolla et al. , 2002 ; Karaman et al. , 2002 ; Keles et al. , 2003). Pada subyek yang mempunyai hubungan molar angle klas II unilateral, tekanan asimetrik yang dimunculkan oleh headgear unilateral sering dihasilkan dalam distalisasi molar crossbite, hal inilah yang mendasari dokter gigi ortodontist menghindari perawatan ini (Yoshida dkk, 2001).
Meskipun telah banyak publikasi mengenai kegagalan alat distalisasi molar bilateral, namun informasi mengenai adanya permasalahan seperti maloklusi klas II unilateral yang asimetris masih terbatas. Literatur mengenai distalisasi unilateral yang kebanyakan terdiri dari laporan kasus, memperlihatkan efek penggunaan alat pada beberapa pasien (Reiner, 1992; Keles dan IÅŸguden, 1999; Karaman dkk, 2002). Sebuah Nance appliance intraoral dimodifikasi untuk distalisasi molar unilateral oleh Reiner (1992), yang telah melaporkan adanya distalisasi sebesar 0.19 mm/minggu. Keles (2001) meneliti 15 pasien yang sedang menjalani perawatan orthodontik dengan menggunakan plat Keles intraoral unilateral. Pergerakan gigi sebesar 4.9 mm dalam 6.1 bulan. Peneliti tersebut menyimpulkan bahwa pergerakan bodily gigi terjadi dengan kehilangan anchorage (penjangkaran) yang minim.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat distalisasi dan tingkat kehilangan anchorage (penjangkaran), dan mengidentifikasi perubahan gigi-geligi di sisi non-distalisasi pada pasien dengan hubungan molar klas II unilateral menggunakan plat Keles, yang didesain tanpa bite plane.

Subyek dan Metode
Penelitian ini telah mendapat izin dari Komite Etik, Universitas Yeditepe.

Kriteria Pemilihan Subyek
Sepuluh perempuan (rata-rata usia 13.94 ± 2.13 ahun) dan tujuh laki-laki (rata-rata usia 13.12 ± 1.51 tahun) yang telah terdaftar untuk mendapat perawatan orthodontik di Bagian Orthodontik, Universitas Yeditepe terdaftar untuk penelitian ini. Seluruhnya dalam masa gigi-geligi permanen, mempunyai pola pertumbuhan vertikal yang normal, mempunyai hubungan sagital skeletal klas I dengan hubungan molar klas II pada satu sisi, dan mempunyai garis lengkung gigi mandibula yang baik. Tidak memiliki overjet lebih dari 3 mm.

Pembuatan Alat
Pembuatan alat dilakukan berdasarkan Keles (2001) dengan beberapa modifikasi. Molar pertama maksila dan premolar di balut dan kemudian dipindahkan ke cetakan alginat. Pada model, sebuah tube berdiameter 1.3 mm (Dentaurum, Pforzheim, Jerman) di solder di sisi palatal pada molar band pertama tadi. Premolar pertama dengan band di lekatkan dengan kawat stainless steel berdiameter 1.1 mm yang terhubung ke kenop Nance. Berbeda dari plat Keles aslinya, kenop akrilik tidak termasuk anterior bite plane. Kawat stainless steel berdiameter 1.2 mm ditempelkan pada kenop Nance akrilik pada bagian anterior alat, yang kemudian melewati gingival molar tube dan arah yang sejajar dengan oklusal plane (Gambar 1). Untuk distalisasi molar, koil spring Ni-Ti yang tebal (Leone C1214-55, Firenze, Itali), dengan panjang 11 mm dan diameter 0.055 inci, ditempatkan antara sekrup pengunci gurin (3M Unitek, Monrovia, California, USA) dan kawat dan tube dengan kompresi penuh. Besarnya tekanan yang dihasilkan dengan kompresi penuh dari koil terbuka berukuran 11 mm kira-kira sebesar 150 g. Sistem ini memungkinkan aplikasi tekanan distal sekitar tingkat pusat resistensi molar pertama. Pasien-pasien diperiksa tiap bulan dan sekrup di reaktivasi setiap 2 bulan dengan pemutar sekrup khusus. Setelah mencapai hubungan molar super-klas I, alat tersebut dilepas, dan gigi-gigi molar distabilkan dengan Nance appliance selama 2 bulan sebelum fase kedua perawatan orthodontik. Durasi perawatan rata-rata untuk kelompok adalah 6.03 bulan (6.35 bulan untuk perempuan dan 5.57 bulan untuk laki-laki).

Analisis Cephalometri
Radiografi cephalometri lateral konvensional dalam posisi kepala yang alami didapatkan dengan menggunakan Trophy Ortho Slice 1000 C (Eastman Kodak Company, Harrow, Middlesex, UK) sebelum insersi dan segera setelah pelepasan alat distalisasi. Untuk menganalisis hubungan maksila dengan perubahan gigi-geligi, dilakukan pengambilan gambar radiografi cephalometrik lebih lanjut menggunakan metode Keles dan Sayinsu (2000). Dikarenakan adanya superimposition dari sisi kanan pada sisi kiri, terkadang ada kesulitan untuk mengidentifikasi inklinasi molar kanan dan kiri dan premolar pada gambaran radiografi cephalometri. Penanda kawat (0.032) diarahkan vertikal dan dikaitkan pada tutup akrilik, yang dibuat untuk molar pertama maksila, premolar pertama, dan incisivus sentralis kanan. Pada sisi kanan, ujung kawat dibengkokkan kearah distal dan pada sisi kiri mesialnya. Pada sisi kanan, penanda tersebut diarahkan vertikal dari aspek distal gigi dan pada sisi kiri dari mesial untuk mencegah superimposition dari penanda tersebut pada gambaran cephalogram. Tutup penanda tersebut secara temporer di sementasi pada gigi pada saat pengambilan gambar radiografi. Radiografi di scan pada 300 dpi kedalam program Dolphin Imaging Software 9.0 (Los Angeles, California, USA). Parameter skeletal dan beberapa gigi-geligi (IMPA, overjet, overbite, L6-MP, L1-MP) dikalkulasi menggunakan program, dengan parameter dental yang telah diukur dari tutup akrilik yang tergambar, terukur dan terdaftar dengan tangan menggunakan metode konvensional (KS). Pengukuran linear dicatat sampai yang mendekati 0.5 mm, dan semua pengukuran angular didapatkan dengan protraktor standar dan dicatat sampai yang mendekati 0.5 derajat. Acuan plane dan pengukuran gigi geligi yang digunakan diperlihatkan pada gambar 2 dan 3.


Gambar 1. Penampang oklusal maksila pasien pada akhir masa distalisasi dengan alat in situ.

Metode Statistik
Tes peringkat Wilcoxon non-parametrik digunakan untuk menentukan perubahan dalam kelompok. Kesalahan dalam metode diperiksa dengan pengukuran kembali pada 10 gambaran radiografi yang dipilih secara acak 1 minggu setelah pengukuran pertama (KS). Tes-t sepasang tidak menunjukkan adanya kesalahan yang melebihi 0.5 mm dan 0.75 derajat pada pengukuran linear dan angular.

Hasil
Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat perubahan penanda dalam parameter skeletal (Tabel 1). Molar pertama maksila rata-rata, terdistalisasi bodily 2.85 mm (P < 0.001). Premolar pertama maksila bergerak bodily maju 2 mm (P < 0.01) dan ekstrusi 2.03 mm (P < 0.001). Keseluruhannya, protrusi sebesar 1.32 mm (P <0.01), ekstrusi 1.12 mm (P < 0.001), dan proklinasi 1.79 derajat (P < 0.01) yang dapat terlihat pada incisivus atas (Tabel 1). Pada sisi non distalisasi, premolar pertama mengalami ekstrusi 1.47 mm (P < 0.05; Tabel 2). Incisivus mandibula dan molar erupsi 0.83 dan 0.95 mm (keduanya P < 0.01), berturut-turut (Tabel 1).

Diskusi
Beberapa metode telah diperkenalkan untuk distalisasi molar dalam perawatan maloklusi dental klas II. Diantaranya, alat intraoral non-compliance yang populer karena meminimalisir pengaruh kooperativitas pasien.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini berbeda dalam beberapa hal dari plat Keles aslinya. Alat ini tidak mempunyai bite plane dan kawat palatal yang diameternya berguna untuk meningkatkan kekakuan alat tersebut. Meskipun kenop akrilik tidak mempunyai bite plane anterior, space inter-arch dihasilkan oleh rest posisi mandibula yang dapat mengeliminasi keperluan disoklusi gigi posterior untuk peninggian pergerakan distal molar maksila. Hasilnya, pada pihak yang lain, menunjukkan bahwa kenop Nance yanglebih kecil ini, yang tidak menutup permukaan palatal gigi anterior maksila dan tidak terdapat bite plane, mempunyai kemungkinan untuk menekan kehilangan penjangkaran yang banyak.
Desain alat pada pada penelitian ini melibatkan tekanan kira-kira 150 g yang dihasilkan pada saat distalisasi molar pertama. Tekanan optimum dijelaskan pada literatur untuk distalisasi molar berkisar mulai dari 100 hingga 240 g (Blechman dan Smiley, 1978; Cetlin dan Ten Hoeve, 1983; Wilson dan Wilson ,1987; Gianelly dkk, 1988,1991; Bondemark dan Kurol, 1992; Bondemark dkk, 1994; Bolla dkk, 2002).
Dalam tujuannya untuk menunjukkan perubahan dental yang dihasilkan oleh alat, digunakan tutup akrilik dengan penanda kawat. Sejak hal ini sulit dibedakan antara molar kanan dan kiri dan premolar pada cephalogram, sebuah metode untuk mendeteksi posisi dan angulasi dari tiap gigi harus digunakan untuk menentukan perubahan yang akurat.
Pada penelitian ini, hubungan molar klas II telah dikoreksi secara unilateral adanya pergerakan distal bodily molar sebanyak 2.85 mm (P <0.001). Besarnya pergerakan ke distal sebesar 0.48 mm per bulan. Pada pemeriksaan dengan Keles (2001), tercatat adanya pergerakan ke distal dari gigi molar sebesar 4.92 mm dan 1.31 mm premolar yang bergerak ke mesial. Perbedaan dalam besarnya distalisasi dan besarnya kehilangan penjangkaran antara dua penelitian mungkin dapat muncul dari perubahan pada desain alat. Kelemahan dari suatu bite plane anterior pada penelitian ini dapat dikarenakan besarnya kehilangan penjangkaran dengan kurangnya pergerakan molar ke distal.
Dengan plat Keles pada penelitian ini, gigi molar dapat didistalisasi tanpa adanya ekstrusi. Besarnya tipping ke arah distal pada pihak lain sangat tidak dapat diprediksi. Sebesar 2.56 ± 4.65 derajat pada molar distal tipping secara statistik tidak signifikan, yang mengindikasikan bahwa hasil dari parameter ini tidak dapat mewakili dengan dirata-ratakan. Variasi ini dihasilkan terutama dari posisi titik aplikasi, dengan kata lain posisi dari molar tube. Bila garis aksi dapat diatur hingga pada tingkat dari pusat resistensi molar pertama maksila, maka alat tersebut dapat menggerakkan molar ke arah distal tanpa adanya tipping, namun tidak mudah dicapai secara rutin pada setiap pasien. Saat penelitian memeriksa efek dari alat Distal Jet, yang menyerupai plat Keles, yang telah dianalisis, rata-rata 3 mm distalisasi mahkota molar dengan 3-7 derajat inklinasi distal yang nampak (Bolla dkk, 2002). Hasil tersebut serupa dengan yang ditemukan pada penelitian lainnya.
Stabilitas molar yang tipping ke arah distal berubah-ubah dan penggunaan penjangkaran untuk menarik kembali gigi-gigi anterior masih dipertanyakan, untuk stabilisasi penjangkaran dan gigi molar yang tegak lurus, diperlukan headgear (Nanda, 1996). Hal ini bagaimanapun juga, memperlihatkan ketidakpastian dalam hal kooperatif pasien untuk kesuksesan perawatan.
Bondemark dan Kurol (1992), dalam penelitian mereka yang menggunakan magnet, menemukan bahwa molar bergerak ke distal sebanyak 4.2 mm dengan tipping distal sebesar 8 derajat. Pada penelitian selanjutnya (Bondemark dkk, 1994), membandingkan meniadakan magnet dan koil spring Ni-Ti super-elastik, melaporkan bahwa dengan modifikasi pada alat dengan cara memanjangkan kawat dari Nance menuju palatal tube dari band molar pertama, menghasilkan distalisasi dari molar pertama dan kedua dengan tipping yang minim. Rancangan ini dapat mencapai distalisasi molar dengan sliding mekanik; namun demikian tipping distal yang minimal dan rotasi distobukal gigi molar nampak terlihat.
Pada penelitian ini premolar pertama bergerak sebanyak 2.0 ± 1.92 mm (P < 0.01) kearah mesial, dan ekstrusi sebanyak 2.03 mm (P < 0.001). Tipping distal premolar sebesar 2.21 ± 4.87 derajat yang secara statistik tidak signifikan. Empat puluh satu persen space dihasilkan dari pergerakan premolar pertama ke mesial pada daerah bukal. Bolla dkk (2002) melaporkan penjangkaran premolar hilang sebanyak 1.3 mm, setengah dari subyek telah erupsi gigi molar keduanya. Kebalikan dari penelitian, premolar yang terlihat ke ujung mesial (Keles 2001), adanya tipping distal pada gigi premolar yang menjadi penjangkaran sangat mirip dengan data Bolla dkk (2002) sebesar 2.8 derajat dan Keles dan Sayinsu (2000) sebesar 2.73 derajat tipping distal. Tipping distal gigi premolar pada penelitian ini dapat dijelaskan dengan putaran searah jarum jam pada kenop Nance yang dihasilkan oleh tekanan koil spring. Ghosh dan Nanda (1996), menggunakan alat pendulum, melaporkan pergerakan premolar ke mesial sebanyak 2.55 mm dengan 1.29 derajat tipping mesial dan ekstrusi 1.7 mm. Untuk tiap milimeter pergerakan distal gigi molar, gigi premolar bergerak ke mesial sebanyak 0.75 mm. Kehilangan penjangkaran ini terlihat bersamaan dengan tipping distal gigi molar sebesar 8.36 derajat. Distaliser bodily intraoral untuk gigi molar menggerakkan molar kearah distal tanpa ada tipping tetapi banyak kehilangan penjangkaran (Keles dan Sayinsu, 2000). Untuk setiap milimeter dari distalisasi molar, sebanyak 0.82 mm penjangkaran yang hilang nampak terlihat. Hal ini harus selalu diingat bahwa distalisasi bodily gigi molar dapat disebabkan peningkatan kehilangan penjangkaran di anterior.
Pada penelitian ini, terdapat kesempatan untuk mengevaluasi perubahan yang terjadi pada sisi non-distalisasi dengan bantuan penanda kawat. Hasil menunjukkan bahwa hanya perubahan dental berupa ekstrusi gigi premolar sebanyak 1.47 mm (P < 0.05; Tabel 2). Pergerakan ini pada sisi non-distalisasi dapat dijelaskan dengan adanya momen yang dihasilkan pada alat bagian anterior.
Incisivus maksila mengalami protrusi 1.32 mm (P < 0.01) dengan labial tipping sebesar 1.79 derajat (P < 0.01) dan ekstrusi sebanyak 1.12 mm (P < 0.001). Hasil yang serupa terdapat pada penelitian yang memeriksa efek alat distalisasi intraoral. Oleh karena itu harus diingat bahwa incisivus maksila dipertahankan agar tidak tipping ke labial tanpa menghiraukan tipe alat distalisasi (Bondemark dan Kurol, 1992; Ghosh dan Nanda, 1996; Keles dan IÅŸguden, 1999; Bussick dan McNamara, 2000; Keles dan Sayinsu, 2000; Keles, 2001; Bolla dkk, 2002).
Selama periode stabilisasi 2 bulan dengan kenop Nance secara spontan nampak pergeseran distal gigi premolar dan pengurangan overjet yang nampak pada semua pasien. Dilepasnya alat distalisasi telah mengeliminasi tekanan ke arah mesial pada premolar dan incisivus; akibatnya gigi-gigi yang dipakai sebagai penjangkaran relaps kembali ke arah distal.
Molar mandibula erupsi 0.95 mm (P < 0.01) dan incisivus mandibula 0.83 mm (P < 0.01) untuk kompensasi kelanjutan pertumbuhan vertikal dan horisontal wajah.

Kesimpulan
Plat Keles unilateral yang dimodifikasi dapat mendistalisasi gigi molar dan berhasil mencapai hubungan molar klas I dengan 0.48 mm pergerakan ke arah distal per bulan. Lima puluh sembilan persen space yang dihasilkan oleh pergerakan gigi molar ke distal pada daerah bukal. Meskipun tekanan unilateral didapatkan, kehilangan penjangkaran sebanding dengan alat distalisasi bilateral. Hanya perubahan dental pada sisi non-distalisasi berupa ekstrusi pada premolar sebanyak 1.47 mm, yang dikarenakan adanya momen yang dihasilkan bagian anterior alat tersebut. Pasien dengan incisivus yang berinklinasi palatal dan tegak lurus dapat dipilih untuk perawatan dengan alat distalisasi.


Gambar 2. Bidang referensi dan pengukuran angulasi dental. Horizontal plane (HP): garis referensi horisontal yang mempunyai sudut 7 derajat dari bidang sella-nasion (SN). Vertikal plane (VP): garis vertikal yang melewati titik S tegak lurus terhadap HP. Nomor 1, 2 dan 3: sudut-sudut antara HP dan garis yang melalui penanda kawat.



Gambar 3. Bidang referensi dan pengukuran dental linear. a, b dan c: jarak tegak lurus antara bidang horisontal dan pinggiran oklusal kawat penanda. d, e dan f: jarak tegak lurus antara bidang vertikal dan pinggiran oklusal kawat penanda. g: tegak lurus antara mandibular plane (MP) dan ujung cusp mesial molar pertama mandibula. h: jarak tegak lurus antara MP dan ujung incisal dari incisivus sentralis mandibula.

INTERPRETASI PENYAKIT PERIAPIKAL BERDASARKAN GAMBARAN RONTGEN

INTERPRETASI PENYAKIT PERIAPIKAL BERDASARKAN GAMBARAN RONTGEN

PENDAHULUAN

Radiologi adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan substansi radioaktif, pancaran sinar serta diagnose dan perawatan dengan menggunakan sinar rongsen atau ultrasound. Fungsi dari sinar radioaktif atau yang biasa disebut sinar rongsen ini pada dasarnya untuk melihat jaringan yang sulit dilihat dengan kasat mata sehingga dapat membantu menegakkan diagnose.

Macam-macam infeksi gigi antara lain, karies gigi, infeksi dentoalveolar (infeksi pulpa dan abses periapikal), gingivitis (ANUG), periodontitis (termasuk perikoronitis dan peri-implantitis), Deep facial space infection, dan osteomielitis. Apabila infeksi ini tidak dirawat dapat menyebar dan memperbesar infeksi polimikrobial pada organ tubuh lainnya.

Infeksi gigi ini umumnya dimulai dari permukaan gigi yaitu, karies gigi. Karies gigi pada tahap awal tidak menimbulkan rasa sakit namun pada tahap lanjut dapat menimbulkan rasa sakit, baik pada gigi yang terkena maupun daerah sekitar gigi tersebut. Rasa sakit ini pada permulaannya didahului oleh rasa sakit yang ringan pada saat gigi kontak makanan/minuman dingin atau panas. Apabila lubang dan invasi bakteri semakin dalam hingga menembus dentin, maka rasa sakit muncul sesekali dan semakin tajam. Apabila invasi bakteri sudah mencapai pulpa gigi yang terdiri dari pembuluh darah dan saraf, maka dapat menimbulkan infeksi pada pulpa yang dapat menyebabkan rasa sakit yang sangat dan berdenyut. Serangan bakteri yang terus-menerus pada pulpa akan menyebabkan pulpa mati. Dengan kematian saraf gigi ini, maka rasa sakit juga menghilang. Namun keadaan ini dapat berlanjut lebih buruk lagi dengan terjadinya abses sekitar gigi yang sangat sakit. Pada akhirnya gigi mengalami pembusukan, apabila tidak dilakukan perawatan terhadap gigi yang telah busuk tersebut.
Jenis terapi untuk gigi karies adalah tumpatan/konservatif, RCT/endodontik, dan exodonsia. Tumpatan (konservatif) digunakan sebagai tindakan preventif atau pencegahan dari perluasan penyebaran karies. Sedangkan terapi endodontik di indikasikan untuk pulpa gigi yang telah mati. Tindakan ekstraksi dilakukan bila gigi telah hancur oleh karena proses karies atau sudah tidak dapat dipertahankan lagi.
Gigi yang mengalami periapikal abses, namun masih dapat dipertahankan. Maka dapat dirawat dengan perawatan saluran akar (
Root Canal Treatment/RCT). Namun apabila gigi tersebut sudah tidak dapt dipertahankan lagi, maka gigi harus diangkat, kemudian dilakukan kuretase pada seluruh bagian jaringan lunak dari apikal gigi. Akan tetapi, bila abses yang telah dirawat dengan teknik RCT tidak berhasil, maka hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:

· Pembentukan kista

· Perawatan yang in-adekuat

· Fraktur vertical pada akar

· Adanya material asing pada lesi

· Penetrasi dengan sinus maksilaris

Karies merupakan salah satu penyakit tertua yang telah ada sejak 14.000 tahun yang lalu. sesuai dengan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) 2004 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan menyebut prevalensi karies gigi di Indonesia adalah 90,05 persen. Karies yang berlanjut lambat laun akan mencapai bagian pulpa dan mengakibatkan peradangan pada pulpa. Walton mengklasifikasikan keradangan pada pulpa terdiri dari pulpitis reversibel, pulpitis irreversibel, degeneratif pulpa dan nekrosis pulpa. Proses peradangan pulpa yang berlanjut dapat menyebabkan kelainan periapikal. Lesi periapikal dikelompokkan menjadi : simptomatik apikal periodontitis, asimptomatik apikal periodontitis dan abses periapikal. Nobuhara dan del Rio(1) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa 59.3% dari lesi periapikal merupakan granuloma periapikal, 22% kista periapikal, 12% jaringan parut periapikal dan 6.7% lainnya.

Penyakit periapikal merupakan suatu keadaan patologis yang terlokalisir pada daerah apeks atau ujung akar gigi atau daerah periapikal gigi.

Abses periapikal adalah kumpulan pus yang terlokalisir dibatasi oleh jaringan tulang yang disebabkan oleh infeksi dari pulpa dan atau periodontal. Abses periapikal umumnya berasal dari nekrosis jaringan pulpa. Jaringan yang terinfeksi menyebabkan sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi.

Granuloma periapikal merupakan lesi yang berbentuk bulat dengan perkembangan yang lambat yang berada dekat dengan apex dari akar gigi, biasanya merupakan komplikasi dari pulpitis. Terdiri dari massa jaringan inflamasi kronik yang berprolifersi diantara kapsul fibrous yang merupakan ekstensi dari ligamen periodontal.

Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan bahan setengah cair atau gas biasanya berdinding jaringan ikat dan berisi cairan kental atau semi likuid, dapat berada dalam jaringan lunak ataupun keras seperti tulang. Rongga kista di dalam rongga mulut selalu dibatasi oleh lapisan epitel dan dibagian luarnya dilapisi oleh jaringan ikat dan pembuluh darah.


TINJAUAN PUSTAKA

A. ABSES PERIAPIKAL

Abses adalah daerah jaringan yang terbentuk dimana didalamnya terdapat nanah yang terbentuk sebagai usaha untuk melawan aktivitas bakteri berbahaya yang menyebabkan infeksi. Sistim imun mengirimkan sel darah putih untuk melawan bakteri. Sehingga nanah atau pus mengandung sel darah putih yang masih aktif atau sudah mati serta enzim. Abses terbentuk jikalau tidak ada jalan keluar nanah/pus. Sehingga nanah atau pus tadi terperangkap dalam jaringan dan terus membesar.

Abses periapikal adalah kumpulan pus yang terlokalisir dibatasi oleh jaringan tulang yang disebabkan oleh infeksi dari pulpa dan atau periodontal. Abses periapikal umumnya berasal dari nekrosis jaringan pulpa. Jaringan yang terinfeksi menyebabkan sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah memfagosit bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini maka jaringan sekitarnya akan terdorong dan menjadi dinding pembatas abses. Hal ini merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam maka infeksi bisa menyebar tergantung kepada lokasi abses.

Penyebab Abses Periapikal adalah Tubuh menyerang infeksi dengan sejumlah besar sel darah putih; nanah adalah sekumpulan sel darah putih dan jaringan yang mati. Biasanya nanah dari infeksi gigi pada awalnya dialirkan ke gusi, sehingga gusi yang berada di dekat akar gigi tersebut membengkak.
Nanah bisa dialirkan ke kulit, mulut, tenggorokan atau tengkorak, tergantung kepada lokasi gigi yang terkena.

Gejala Abses Periapikal yaitu gigi terasa sakit, bila mengunyah juga timbul nyeri. Kemungkinan ada demam disertai pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Jika absesnya sangat berat, maka di daerah rahang terjadi pembengkakan.

Orang yang memiliki daya resistensi tubuh yang rendah, memiliki resiko tinggi untuk menderita abses. Pada awalnya, penderita abses mengalami sakit gigi yang bertambah parah. Sehingga saraf di dalam mulut juga dapat terinfeksi. Jika absesnya tersembunyi di dalam gusi, maka gusi bisa berwarna kemerahan. Untuk menterapinya, dokter gigi membuat jalan di permukaan gusi agar pus bisa berjalan keluar. Dan ketika pus sudah mendapatkan jalan keluar, kebanyakan rasa sakit yang diderita oleh pasien berkurang drastis. Jika abses tidak di irigasi/drainasi dengan baik, hanya sekedar pecah. Maka infeksi tadi akan menyebar ke bagian lain di mulut bahkan bisa menyebar ke leher dan kepala.

Gejala awal adalah pasien akan merasakan sakit yang berdenyut-denyut di daerah yang terdapat abses. Lalu gigi akan menjadi lebih sensitif terhadap rangsang panas dan dingin serta tekanan dan pengunyahan. Selanjutnya pasien akan menderita demam, kelenjar limfe di bagian rahang bawah akan terasa lebih menggumpal/sedikit mengeras dan terasa sakit jika diraba. Pasien juga merasa sakit pada daerah sinus. Jika pus mendapat jalan keluar, atau dengan kata lain bisulnya pecah, akan menimbulkan bau busuk dan rasa sedikit asin dalam mulut anda.

Biasanya para dokter gigi dapat mendiagnosa adanya abses dalam rongga mulut dengan memeriksanya secara langsung. Dokter gigi juga dapat melakukan diagnosa pulpa, untuk mengetahui apakah gigi anda masih vital atau tidak. Dan untuk lebih memastikan, dokter gigi juga mengambil gambaran radiografi. Gambaran radiografi dari abses ini tampak gambaran radiolusen berbatas difus di periapikal.

Patofisologi : Umumnya disebabkan oleh infeksi kuman dari proses karies. Dengan perkembangan karies, atau beberapa antigen dapat menyebabkan respons keradangan jaringan pulpa. Oleh karena pulpa tertutup oleh struktur padat dentin maka tidak terdapat ruangan untuk perluasan eksudat radang dan melalui saluran akar akan menyebar ke jaringan periapikal membentuk abses periapikal akut dan bila prosesnya kronik akan menjadi kelainan berupa abses kronik, granuloma dan kista radikular.

Kuman saluran akar merupakan penyebab utama abses periapikal, dan umumnya berupa Gram positif, Gram negatif baik aerob dan anaerob yang akan invasi ke jaringan periapikal dan akhirnya dapat menyebabkan kerusakan.

Pasien dengan abses periapikal mungkin dapat dengan atau tanpa tanda-tanda peradangan, yang difus atau terlokalisasi. Pada pemeriksaan perkusi dan palpasi dapat ditemukan tanda-tanda sensitifitas dengan derajat yang bervariasi. Pulpa tidak bereaksi terhadap stimulasi thermal karena berhubungan dengan pulpa yang telah nekrosis. gambaran radiografi dapat bervariasi dari penipisan ligamen periodontal hingga lesi radiolusensi dengan batas yang tidak jelas.

Abses atau selulitis diatasi dengan menghilangkan infeksi dan membuang nanah melalui bedah mulut atau pengobatan saluran akar. Untuk membantu menghilangkan infeksi seringkali diberikan antibiotik. Tindakan yang terpenting adalah mencabut pulpa yang terkena dan mengeluarkan nanahnya.

Pada pemerikasaan rontgen akan tampak gambaran radiolusen berbatas difus di periapikal. Terapi yang dilakukan adalah insisi, drainase dan pemberian antibiotik.

B. GRANULOMA PERIPIKAL

Granuloma periapikal merupakan lesi yang berbentuk bulat dengan perkembangan yang lambat yang berada dekat dengan apex dari akar gigi, biasanya merupakan komplikasi dari pulpitis. Terdiri dari massa jaringan inflamasi kronik yang berprolifersi diantara kapsul fibrous yang merupakan ekstensi dari ligamen periodontal.

Gambaran radiografi yaitu Tampak gambaran radiolucent dengan batas tepi yang kadang terlihat jelas pada periapikal. Umumnya berbentuk bulat. Gigi yang bersangkutan akan menunjukkan hilangnya gambaran lamina dura. Biasanya tidak disertai adanya resorbsi akar, namun ada juga yang menunjukkan gambaran resorbsi akar.

Granuloma periapikal dapat disebabkan oleh berbagai iritan pada pulpa yang berlanjut hingga ke jaringan sekitar apeks maupun yang mengenai jaringan periapikal. Iritan dapat disebabkan oleh organisme seperti: bakteri dan virus; dan non-organisme seperti: iritan mekanis, thermal, dan kimia.

Penelitian yang dilakukan terhadap spesimen periapikal granuloma, sebagian besar merupakan bakteri anaerob fakultatif dan organisme yang tersering adalah Veillonella species (15%), Streptococcus milleri (11%), Streptococcus sanguis (11%), Actinomyces naeslundii (11%), Propionibacterium acnes (11%), dan Bacteroides species (10%).3 Sedangkan faktor non-organisme adalah karena iritan mekanis setelah root canal therapy, trauma langsung, trauma oklusi, dan kelalaian prosedur endodontik; dan bahan kimia seperti larutan irigasi.

Secara klinis dental granuloma tidak dapat dibedakan dengan lesi keradangan periapikal lainnya. Untuk membedakan dengan lesi periapikal lainnya diperlukan pemeriksaan radiografi. Ukurannya bervariasi, mulai dari diameter kecil yang hanya beberapa millimeter hingga 2 centimeter.

Dental granuloma terdiri dari jaringan granulasi yang dikelilingi oleh dinding berupa jaringan ikat fibrous. Pada dental granuloma yang sudah cukup lama, cenderung memberikan gambaran adanya sel plasma, limfosit, neutrofil, histiosit, dan eusinofil, serta sel epithelial rests of Malassez. Pada gigi dengan karies perforasi pada pemeriksaan mikrobiologi akan didapatkan mikroaerofilik bacterium actynomices.

Disebabkan oleh kelainan patologis dari reaksi keradangan pulpa yang berlanjut hingga ke jaringan sekitar apeks. Pulpitis itu sendiri dapat disebabkan oleh infeksi karies sekunder, trauma, atau kegagalan perawatan saluran akar. Nekrosis pulpa akan menstimulasi reaksi radang pada jaringan periodontal gigi yang bersangkutan.

Patofisiologi dari Granuloma periapikal juga dapat disebabkan oleh berbagai iritan pada pulpa yang berlanjut hingga ke jaringan sekitar apeks maupun yang mengenai jaringan periapikal. Iritan dapat disebabkan oleh organisme seperti: bakteri dan virus; dan non-organisme seperti: iritan mekanis, thermal, dan kimia timbul akibat nekrosis pulpa, penyebaran pertama dari inflamasi pulpa ke jaringan periradikuler. Granuloma periapikal merupakan kelanjutan dari abses periapikal akut. Iritannya meliputi mediator inflamasi dari pulpa yang terinflamasi irreversible atau toksin bakteri dari pulpa yang nekrotik.

Patogenesis yang mendasari granuloma periapikal adalah respon system imun untuk mempertahankan jaringan periapikal terhadap berbagai iritan yang timbul melalui pulpa, yang telah menjalar menuju jaringan periapikal. Terdapat berbagai macam iritan yang dapat menyebabkan peradangan pada pulpa, yang tersering adalah karena bakteri, proses karies yang berlanjut akan membuat jalan masuk bagi bakteri pada pulpa, pulpa mengadakan pertahanan dengan respon inflamasi.

Terdapat tiga karakteristik utama pulpa yang mempengaruhi proses inflamasi. Pertama, pulpa tidak dapat mengkompensasi reaksi inflamasi secara adekuat karena dibatasi oleh dinding pulpa yang keras. Inflamasi akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan meningkatnya volume jaringan karena transudasi cairan. Kedua, meskipun pulpa memiliki banyak vaskularisasi, namun hanya disuplai oleh satu pembuluh darah yang masuk melalui saluran sempit yang disebut foramen apikal, dan tidak ada suplai cadangan lain. Edema dari jaringan pulpa akan menyebabkan konstriksi pembuluh darah yang melalui foramen apikal, sehingga jaringan pulpa tidak adekuat dalam mekanisme pertahanan, terlebih lagi edema jaringan pulpa akan menyebabkan aliran darah terputus, menyebabkan pulpa menjadi nekrosis. Ruangan pulpa dan jaringan pulpa yang nekrotik akan memudahkan kolonisasi bakteri. Ketiga, karena gigi berada pada rahang, maka bakteri akan menyebar melalui foramen apikal menuju jaringan periapikal.

Gejala klinis dari granuloma periapikal dan kista periapikal sangat sulit dibedakan, biasanya pasien tidak mengeluhkan adanya nyeri, dan tes perkusi negatif. Oleh karena berhubungan dengan pulpa yang telah nekrosis, stimulasi thermal akan menunjukkan nilai yang negatif. Gambaran radiografi akan menunjukkan adanya radiolusen dengan batas yang jelas. Meskipun pemeriksaan dengan radiografi merupakan kunci diagnostik, satu satunya cara untuk dapat membedakan keduanya secara akurat adalah dengan menggunakan pemeriksaan mikroskopik; gambaran histopatologis granuloma periapikal telah dijelaskan sebelumnya, sedangkan gambaran histopatologis kista periapikal ditandai dengan adanya suatu rongga yang berlapiskan epitel jenis non-keratinizing stratified squamous dengan ketebalan yang bervariasi, dinding epitelium tersebut dapat sangat proliferatif dan memperlihatkan susunan plexiform. Secara khas dapat dilihat adanya proses radang dengan ditemukannya banyak sel radang, yaitu sel plasma dan sel limfosit pada dinding kista tersebut. Rousel body atau round eusinophilic globule banyak ditemukan didalam atau diluar sel plasma sehingga terjadi peningkatan sintesis imunoglobulin.

Granuloma periapikal merupakan reaksi inflamasi kronis yang berada di sekitar apex gigi yang merupakan kelanjutan dari keradangan pada pulpa yang disebabkan oleh berbagai macam iritan, seperti bakteri, trauma mekanis, dan bahan kimia. Patogenesis yang mendasarinya adalah reaksi dari sistem imun tubuh terhadap adanya iritan. Granuloma periapikal biasanya tidak bergejala dan ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan radiografi sebagai gambaran radiolusen, diagnosis bandingnya termasuk kista periapikal dan abses periapikal, yang hanya dapat dibedakan melalui pemeriksaan mikroskopis. terapi dapat dilakukan dengan penanganan endodontik non pembedahan maupun pembedahan. Prognosis dari granuloma periapikal adalah baik.

Dental granuloma umumnya tidak menimbulkan gejala-gejala yang pasti. Gigi yang bersangkutan akan memberikan respon negative pada perkusi, tes termal, dan tes elektrik pulpa. Pada dental granuloma yang terus berlanjut dan dibiarkan tanpa perawatan dapat berubah menjadi kista periapikal.

Lesi inflamasi apical umumnya disebabkan oleh adanya produk toksik yang dihasilkan oleh bakteri yang ada di saluran akar, sehingga keberhasilan perawatan tergantung pada eliminasi bakteri pada gigi yang bersangkutan.

Pada gigi yang masih dapat dipertahankan dapat dilakukan perwatan saluran akar. Sedangkan pada gigi yang tidak dapat dilakukan restorasi maka harus dilakukan ekstraksi. Pada gigi yang dirawat saluran akar perlu dilakukan evaluasi pada tahun pertama dan kedua untuk memastikan apakah lesi bertambah besar atau telah sembuh.

Kebanyakan dari periapikal granuloma ditemukan secara tidak sengaja selama pemeriksaan rutin. Karena granuloma periapikal merupakan kelanjutan dari nekrosis pulpa maka pada pemeriksaan fisik akan didapatkan tes thermal yang negatif dan tes EPT yang negatif. Pada gambaran radiografi lesi yang berukuran kecil tidak dapat dipisahkan secara klinis dan radiografi. Periapikal granuloma terlihat sebagai gambaran radiolusen yang menempel pada apex dari akar gigi. Sebuah gambaran radiolusensi berbatas jelas atau difus dengan berbagai ukuran yang dapat diamati dengan hilangnya lamina dura, dengan atau tanpa keterlibatan kondensasi tulang.

Kegagalan proses penyembuhan bisanya disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

- Berubah menjadi bentukan kista

- Kegagalan perawatan saluran akar

- Fraktur akar vertical

- Adanya penyakit periodontal

Gejala klinis dari granuloma periapikal dan kista periapikal sangat sulit dibedakan, biasanya pasien tidak mengeluhkan adanya nyeri, dan tes perkusi negatif. Oleh karena berhubungan dengan pulpa yang telah nekrosis, stimulasi thermal akan menunjukkan nilai yang negatif. Gambaran radiografi akan menunjukkan adanya radiolusen dengan batas yang jelas. Meskipun pemeriksaan dengan radiografi merupakan kunci diagnostik, satu satunya cara untuk dapat membedakan keduanya secara akurat adalah dengan menggunakan pemeriksaan mikroskopik; gambaran histopatologis granuloma periapikal telah dijelaskan sebelumnya, sedangkan gambaran histopatologis kista periapikal ditandai dengan adanya suatu rongga yang berlapiskan epitel jenis non-keratinizing stratified squamous dengan ketebalan yang bervariasi, dinding epitelium tersebut dapat sangat proliferatif dan memperlihatkan susunan plexiform. Secara khas dapat dilihat adanya proses radang dengan ditemukannya banyak sel radang, yaitu sel plasma dan sel limfosit pada dinding kista tersebut. Rousel body atau round eusinophilic globule banyak ditemukan didalam atau diluar sel plasma sehingga terjadi peningkatan sintesis imunoglobulin


C. KISTA RADIKULER

Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan bahan setengah cair atau gas biasanya berdinding jaringan ikat dan berisi cairan kental atau semi likuid, dapat berada dalam jaringan lunak ataupun keras seperti tulang. Rongga kista di dalam rongga mulut selalu dibatasi oleh lapisan epitel dan dibagian luarnya dilapisi oleh jaringan ikat dan pembuluh darah.

Kista radikuler disebut juga kista periapikal. Kista ini merupakan jenis kista yang paling sering ditemukan. Kista radikuler terbentuk oleh karena iritasi kronis gigi yang sudah tidak vital. Kista ini tumbuh dari epitel rest of Malassez yang mengalami proliferasi oleh karena respon terhadap proses radang yang terpicu oleh karena infeksi bakteri pada pulpa yang nekrosis

Kista periapikal adalah kista yang terbentuk pada ujung apeks (akar) gigi yang jaringan pulpanya sudah nonvital/mati. Kista ini merupakan lanjutan dari pulpitis (peradangan pulpa). Dapat terjadi di ujung gigi manapun, dan dapat terjadi pada semua umur. Ukurannya berkisar antara 0.5-2 cm, tapi bisa juga lebih. Bila kista mencapai ukuran diameter yang besar, ia dapat menyebabkan wajah menjadi tidak simetri karena adanya benjolan dan bahkan dapat menyebabkan parestesi karena tertekannya syaraf oleh kista tersebut. Dalam pemeriksaan rontgen kista radikuler akan terlihat gambaran radiolusen berbatas jelas.

Pola umum pertumbuhan suatu kista terjadi karena adanya stimulasi (cytokinase) pada sisa-sisa sel epitel pertumbuhan yang kemudian mengalami proliferasi dan di dalam pertumbuhannya tidak menginvasi jaringan sekitarnya. Sisa epitel tersebut kemudian akan berproliferasi membentuk massa padat. Kemudian massa akan semakin membesar sehingga sel-sel epitel di bagian tengah massa akan kehilangan aliran darah, sehingga aliran nutrisi yang terjadi melalui proses difusi akan terputus. Kematian sel-sel dibagian tengah massa kista tersebut akan menyebabkan terbentuk suatu rongga berisi cairan yang bersifat hipertonis. Keadaan hipertonis akan menyebabkan terjadinya proses transudasi cairan dari ekstra lumen menuju ke dalam lumen. Akibatnya terjadi tekanan hidrostatik yang berakibat semakin membesarnya massa kista. Proses pembesaran massa kista dapat terus berlangsuung, kadang sampai dapat terjadi parastesia ringan akibat ekspansi massa menekan daerah saraf sampai timbulnya rasa sakit.

Kista ini tidak menimbulkan keluhan atau rasa sakit, kecuali kista yang terinfeksi. Pada pemeriksaan radiografis, kista periapikal memperlihatkan gambaran seperti dental granuloma yaitu lesi radiolusen berbatas jelas di sekitar apeks gigi yang bersangkutan dan tepinya seperti lapisan tipis yang kompak seperti lamina dura.

Hampir semua kista radikuler berasal dari granuloma periapikal yang terjadi sebelumnya. Kista ini juga disebabkan oleh berlanjutnya peradangan yang awalnya terjadi pada pulpa, yang kemudian meluas hingga jaringan periapikal di bawahnya.

Patofisiologi dari kista radikuler yaitu diawali dari peradangan jaringan pulpa yang lama kelamaan menyebabkan inflamasi periapikal. Inflamasi ini merangsang the malassez ephitelial rest yang terdapat pada ligamentum periodontal sehingga menghasilkan pembentukan granuloma periapikal yang dapat bersifat terinfeksi atau steril. Akhirnya epitelium mengalami nekrosis karena kehilangan suplai darah dan granuloma berubah menjadi kista.

Kista residual merupakan kista yang disebabkan oleh keradangan pada fragmen akar yang tertinggal saat pencabutan atau adanya sisa granuloma yang tidak terambil saat pencabutan. Pada pemeriksaan klinis didapatkan rahang tidak bergigi dengan sejarah pernah dilakukan ekstraksi dan pada gambaran radiologi ditemukan gambaran radiolusen. Secara histopatologis ditandai dengan adanya suatu rongga yang berlapiskan epitel yang tidak mengalami keratinisasi squamosa dan mempunyai ketebalan yang bervariasi. Secara khas dapat dilihat adanya proses radang dengan ditemukannya banyak sel neutrofil pada dinding kista. Perawatan kista residual adalah dengan melakukan enukleasi dan pada umumnya tidak terjadi rekuren.

Perawatan terdiri dari perawatan saluran akar, atau pencabutan gigi yang bersangkutan kemudian kista dikuretase. Dapat juga diterapi dengan cara Marsupialisasi dan enukleasi.


PENUTUP

· Abses periapikal adalah kumpulan pus yang terlokalisir dibatasi oleh jaringan tulang yang disebabkan oleh infeksi dari pulpa dan atau periodontal. Abses periapikal umumnya berasal dari nekrosis jaringan pulpa. Jaringan yang terinfeksi menyebabkan sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah memfagosit bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini maka jaringan sekitarnya akan terdorong dan menjadi dinding pembatas abses. Hal ini merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam maka infeksi bisa menyebar tergantung kepada lokasi abses.

· Granuloma periapikal merupakan reaksi inflamasi kronis yang berada di sekitar apex gigi yang merupakan kelanjutan dari keradangan pada pulpa yang disebabkan oleh berbagai macam iritan, seperti bakteri, trauma mekanis, dan bahan kimia. Patogenesis yang mendasarinya adalah reaksi dari sistem imun tubuh terhadap adanya iritan. Granuloma periapikal biasanya tidak bergejala dan ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan radiografi sebagai gambaran radiolusen, diagnosis bandingnya termasuk kista periapikal dan abses periapikal, yang hanya dapat dibedakan melalui pemeriksaan mikroskopis. terapi dapat dilakukan dengan penanganan endodontik non pembedahan maupun pembedahan. Prognosis dari granuloma periapikal adalah baik.

· Kista periapikal adalah kista yang terbentuk pada ujung apeks (akar) gigi yang jaringan pulpanya sudah nonvital/mati. Kista ini merupakan lanjutan dari pulpitis (peradangan pulpa). Dapat terjadi di ujung gigi manapun, dan dapat terjadi pada semua umur. Ukurannya berkisar antara 0.5-2 cm, tapi bisa juga lebih. Bila kista mencapai ukuran diameter yang besar, ia dapat menyebabkan wajah menjadi tidak simetri karena adanya benjolan dan bahkan dapat menyebabkan parestesi karena tertekannya syaraf oleh kista tersebut. Dalam pemeriksaan rontgen kista radikuler akan terlihat gambaran radiolusen berbatas jelas.


· Table diferensial diagnosa

pemeriksaan

Granuloma periapikal

Kista periapikal

Abses periapikal

Nyeri spontan

-

-

+

Tes perkusi

-

-

+

Tes palpasi

-

-

+

Tes vitalitas

-

-

-

radiologis

Radiolusensi batas jelas

Radiolusensi batas jelas

Radiolusensi difus